Agar Hijrah Tidak Sia-Sia

Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak umat Islam, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Sebuah gerakan positif yang patut mendapatkan apresiasi. Terlebih ketika gerakan ini lahir di tengah upaya pihak tertentu menjuhkan generasi muda dari ajaran agama.

Meningkatnya minat kalangan muda untuk mengetahui tentang hijrah, tentu harus dikawal dengan petunjuk ilmu yang benar. Sehingga hakikat hijrah ini tidak dipahami dengan salah. Sebab, ada semacam fenomena dimana aktivitas hijrah dipahami hanya sebagai gaya semata atau hanya menjadi tren sesaat saja. Maka tidak heran bila kemudian kita pernah mendengar ada sosok yang sudah menyatakan dirinya berhijrah, tapi yang berubah hanya penampilan luarnya saja. Sementara akhlak dan perilakunya masih tetap saja jauh dari nilai-nilai Islam.

Karena itu, siapapun hendak memutuskan untuk berhijrah atau yang sudah berada di atas jalan hijrah, maka tidak hanya dituntut memperbaiki niat saja. Agar bisa istiqamah di atas jalan tersebut, ia juga mesti memahami apa itu hakikat hijrah dan bagaimana indikator keberhasilannya dalam berhijrah.

Bila kita membaca kembali hikmah dibalik perjalanan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya, maka kita akan mendapati beragam hikmah dalam aktivitas hijrah ini. Salah satunya adalah bagaimana keberhasilan hijrah yang mereka tempuh. Setidaknya ada empat indikator utama keberhasilan hijrah yang patut kita pahami bersama, yaitu:

Ada Ketenangan Jiwa saat Mendekatkan Diri kepada Allah

Hadirnya ketenangan jiwa menjadi anugerah pertama yang diperoleh di jalan hijrah. Artinya ketika sudah berada di jalan hijrah namun ketenangan dalam menjalankan ketaatan belum muncul maka ada yang perlu dipertanyakan dengan kesungguhan seseorang dalam berhijrah. Ketaatan ini menjadi indikator utama keberhasilan hijrah seseorang. Sebab, dalam Al-Qur’an telah menjajikan dengan firman-Nya:

 “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. An-Nisa: 100)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak para ulama—diantaranya Qotadah—yang menjelaskan bahwa maksud ayat, “niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak,” adalah menyelamatkannya dari kesesatan menuju jalan hidayah, dan menyelamatkannya dari kemiskinan kepada kecukupan. (Tasir Ibnu Katsir, 2/393)

Meningkatnya Kualitas Amal

Indikator keberhasilan hijrah berikutnya adalah adanya peningkatan amal ibadah dalam hidupnya. Perjalanan hidup para sahabat menjadi contoh nyata dalam hal ini. Ketika para sahabat berada di kota Mekah, mereka tidak bisa bebas megerjakan ibadah. Tekanan dan ancaman yang dialami cukup luar biasa. Tidak hanya psikis, namun ancaman terhadap fisik biasa mereka rasakan. Sehingga aktifitas ibadah pun terbatas pada kemampuan mereka.

Maka ketika mereka berhijrah dan sampai di kota Madinah, hal yang pertama sekali menjadi perhatian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah kaum muslimin. Dari situ segala amal ibadah bebas mereka kerjakan. Peningkatan ibadah terjadi luar biasa dalam hidup mereka. Karena itu, salah satu tanda keberhasilan hijrah bukan hanya berupah tampilannya saja. Tapi juga berubah dalam tingkatan amal ibadahnya. Selalu bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.

Berazam Meninggalkan Aktivitas Buruk

Sebagaimana makna hijrah itu sendiri, berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari maksiat menuju ketaatan, dari kebiasaan buruk berganti menjadi kebiasaan yang baik. Karena itu, salah satu indikasi berhasilnya hijrah adalah ketika ia siap meninggalkan segala aktivitas yang menungdang kemurkaan Allah. Sehingga dalam salah satu riwayat, Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan:

“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah,” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka hijrah tidak senantiasa dimaknai dengan perpindahan tempat atau berubahnya penampilan. Namun juga perpindahan secara batin. Berpindah untuk selalu mematuhi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan berusaha menjadi yang lebih baik.

Lahirnya Ketundukan Hati Terhadap Syariat Allah

Hijrah merupakan amalan yang cukup berat. Orang yang menempuhnya akan dianggap asing di tengah-tengah keramaian manusia. Ia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan syariat Allah sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan. Sebab, demikianlah sejatinya orang mukmin. Siap tunduk dengan segala ketetapan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)[]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *