Belajar Tegar dari Pak Yadi di Banten

Sebuah Catatan dari Relawan SAR Al Huda Peduli Tsunami Banten

Kamis (27/12)

Syukur sangat kami rasakan. Akhirnya setelah 23 jam perjalanan dari Solo, tim kedua SAR Al-Huda yang beranggotakan dua orang sampai di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten. Tepatnya pukul 13.00 WIB kami sampai di sana. Kami bergabung dengan rekan-rekan relawan di posko Puskesmas Kertajaya.

Belum cukup kami beristirahat, tiba – tiba terdengar sirine dari sebuah ambulan yang masuk ke puskesmas dengan membawa satu korban yang di temukan hari ini. Kamipun langsung ikut membantu menurunkan jenazah dari mobil.

Identifikasi dilakukan oleh petugas, kamipun kembali beristirahat, karena disamping kami masih lelah, memang identifikasi dilakukan oleh petugas yang dirujuk khusus.

Satu jam kemudian, terdengar pecah suara tangis seorang ibu dari masjid samping posko. Segera kami mendatangi suara tangis tersebut. Dan ternyata tangis itu datang dari ibu korban yang baru saja ditemukan. Menyaksikan putranya terbujur kaku dengan beberapa bagian tubuhnya hancur, serta bau yang sudah sangat menyengat sedang dimandikan oleh ayahnya dan beberapa bidan, sang ibu syok. Ia menangis dan meronta-ronta, seolah tidak percaya dengan kenyataan yang menimpa putra sulungnya.

Tergerak hatiku untuk ikut membantu memandikan anak itu. Deva namanya. Ketegaran begitu nampak dari Pak Yadi, ayah Deva. Pak Yadi dengan sabar mengkafani, menyolatkan, dan mengangkat tubuh Deva ke dalam ambulan untuk di makamkan.

Lega perasaanku setelah ambulan berlalu menuju pemakaman. Aku berharap bisa melanjutkan istirahatku. Tapi kemudian langkahku terhenti begitu melihat istri Pak Yadi pingsan di hadapan dua putranya, Devi dan David. Dua orang bidan berusaha untuk menyadarkannya, sementara tangis kedua anaknya terus terdengar sambil tak henti memanggil nama nya. Devi yang seusia kelas tiga sekolah dasar terus menangis sambil memeluk mamanya. Tak terasa air mataku menitik pelan, dan ku coba mendekati sang ibu yang sedang pingsan.

Aku coba tanyakan kepada bidan, perlukah adanya tindakan medis. Dan bidan mengatakan harus ada tindakan medis. Baru saja bidan menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ibu itu tersadar dan memanggil Deva anaknya.

Betul-betul syok keadaannya. Spontan aku mendekat, sambil aku berucap untuk membangkitkan kesabaran sang ibu “Bu … Ibu lihat saya, lihat saya, Bu … Istighfar Bu … Istighfar … Yakinlah anak ibu insya Allah sekarang di surga, yakinlah anak ibu sekarang menjadi tabungan ibu di akhirat. Anak ibulah kelak yang akan menuntun ibu ke surga. Sabarlah Bu … Lihatlah Devi … Lihatlah David … Mereka sangat membutuhkan ibu. Mereka tidak mau ibunya sakit. Peluk Devi Bu …! Peluk David Bu …! Lihatlah … Ibu tidak sendiri, kami semua yang di sini sayang sama keluarga ibu.”

Entah berapa banyak kalimat yang aku ucapkan. Aku sedih melihat Devi yang terus menangis. Belum lagi melihat wajah Devi yang penuh luka. Akupun terus memberikan semangat kepada ibu itu. Tak peduli puluhan orang di sekitarku. Semua diam dalam haru. Alhamdulillah usahaku tidak sia-sia. Nampak si ibu mulai bangkit, duduk dan mulai memeluk kedua anaknya. Kembali hatiku merasa teriris-iris melihat kejadian yang persis di depan mataku.

Aku ulang-ulang kalimatku sambil menunggu Pak Yadi pulang dari pemakaman. Pelan-pelan kesadaran sang ibu terus bangkit. Hingga saat sang suami tiba, masih dengan ketegaran yang luar biasa, membimbing istrinya untuk ikhlas menerima takdir dari sang pencipta. Hingga akhirnya sebuah mobil relawan membawa mereka sekeluarga bertolak menuju rumah salah satu keluarganya.

Menyaksikan ketegaran Pak Yadi, yang kehilangan anak, rumah, dan seluruh harta bendanya adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi saya. Bersabarlah Pak Yadi …

Ku tulis dalam haru
Mengenang Deva yang terbujur Kaku
Dalam risau hati
Berat untuk tenangkan diri
Lalu …
Ku coba untuk menulis dalam sepi
Sebutir kisah pilu akibat tsunami
Diantara ratusan kisah tak bertepi
Selamat jalan Deva …
Tangis cita bundamu semoga mengantarmu ke surga
Ketegaran ayahmu
Semoga menjadi semangat bagi adik adikmu

Banten, Tepat Pukul 00.00 WIB
Ogik, SAR Al-Huda Solo

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *