Dilarang Rindu

Senin (31/12)

Judul di atas mungkin adalah ungkapan yang tepat bagi kami yang sedang berada di daerah bencana sebagai seorang relawan.

Hari Senin ini adalah hari terakhir di tahun 2018. Momentum liburan yang seharusnya kami gunakan untuk berkumpul dengan keluarga tercinta. Belum lagi saat ini seharusnya kami bertemu dengan si sulung yang sedang berlibur dari pondok pesantren setelah sekitar dua bulan lamanya.

Hari ini kami jalani aktifitas seperti biasanya. Pagi hari kami membungkusi sembako, membagikannya kepada pengungsi, berkumpul dengan anak anak, menerima tamu yang membawa bantuan serta berbagai macam aktifitas posko lainnya yang cukup melelahkan.

Beruntung siang ini kami mendapatkan kiriman puluhan buah durian serta satu karung buah manggis dari Kepala Desa Sindanglaut. Beramai-ramai kami menikmatinya, menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi kami.

Dalam diam aku berharap telepon di depanku berdering. Berharap si kecil bertanya kapan Bapak pulang. Dan suara yang sangat ku rindukan itu menjadi sedikit penghibur untuk hari ini yang terasa sepi.

Ah …

Tunggu nak. Tunggu Bapak pulang. Besok kita akan berlibur. Bermain kemanapun yang kamu suka.

Hujan sore ini membuat suasana menjadi lebih membuatku semakin larut dalam lamunan. Hujan khas di akhir Desember. Ya, hujan khas tahun baru. Semakin terbayang betapa ketiga anak-anakku hanya berdiam di depan trlevisi menghabiskan malam nanti.

Ini bukan sekedar tentang terompet tahun baru
Bukan juga pesta pora kembang api tengah malam nanti
Ini adalah tentang ketiga buah hati
Yang sedang menanti
Bahagia yang tertunda
Demi menggapai bahagia yang sesungguhnya
Jauh bukan berarti lupa
Karena dari jauh ku kirimkan doa
Karena dari jauh ku kirimkan cinta

Sindanglaut, saat senja gerimis di penghujung tahun

Anonim

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *