Manusia-Manusia Penolong

Ahad (30/12)

Musibah tak pernah ada yang tahu kapan datangnya. Lima menit lalu bisa tertawa namun sekarang menangis. Ya, begitulah kehidupan semua ada ujiannya. Allah akan meninggikan derajat hambaNya yang bersabar.

Seperti halnya masyarakat di Pesisir Selat Sunda, tepatnya di Kecamatan Sindanglaut yang menjadi korban bencana tsunami. Kehilangan keluarga, saudara, harta dan tempat tinggal tentu membuat sedih. Namun, mereka sadar harus bangkit. Masih ada keluarga, teman, tetangga mereka yang selamat. Mereka semua masih membutuhkan bantuan dan semangat. Saling menyemangati dan membantu satu sama lain. Itulah pemandangan yang kami saksikan selama menjadi relawan.

Seperti hari ini, relawan SAR Al-Huda bersama ibu-ibu di posko Sindanglaut pagi-pagi sekali sudah bersiap dengan peralatan dapur untuk memasak dan menyiapkan nasi bungkus yang akan di distribusikan ke tempat-tempat pengungsian. Rutinitas tersebut di lakukan ibu-ibu setiap hari. Tanpa mengeluh dan mengharap imbalan, mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga demi orang lain. Padahal keadaan mereka sama, menjadi korban bencana. Bahkan ada yang membawa anak-anak kecil. Namun itu semua tak menyurutkan niat mereka untuk tetap membantu orang lain.

Ah … banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari mereka. Ketabahan, ketegaran dan rasa kepedulian yang makin hari makin sulit saya temui. Teringat kata seseorang, “Kita hanya perlu menjadi manusia untuk menolong.” Tetaplah tersenyum menyambut hari esok dengan kesabaran, kawan. (Arif)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *