Media Islam Alat Pemersatu Umat

Media Islam, Alat Pemersatu Umat

Urgensi Media Islam

Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya perantara atau pengantar. Menurut EACT yang dikutip oleh Rohani (1997 : 2) “media adalah segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi”. Bila kata media dikaitkan dengan kata Islam, maka berarti media yang dimaksud mempunyai nilai keislaman yang kuat.

Oleh karena itu, media Islam amat menyumbangkan peran penting agar informasi tentang segala hal yang terjadi berkaitan dengan dunia Islam bisa tersampaikan kepada kaum muslimin. Sehingga umat tidak buta dengan permasalahan yang terjadi. Sebagai contoh tentang penistaan Al Qur’an yang dilakukan oleh salah seorang gubernur yang hari ini sudah lengser. Kepedulian umat terhadap perkara ini karena—biidznillah—perantara media-media Islam. Kemudian berita itu menjadi viral karena banyak individu muslim yang turut andil menyebarkannya.

Begitulah urgensi media Islam, seperti yang diserukan dalam Muktamar Media Massa Islam Sedunia Pertama di Jakarta pada I980 yang disponsori Rabithah Alam lslami diharapkan menjadi suatu kekuatan besar dalam melaksanakan upaya umat Islam untuk meningkatkan harga diri dan prestise Islam serta mendorong upaya memperbaiki keadaan umat ke arah yang lebih baik di tengah tantangan dunia dewasa ini.

Tantangan kebatilan yang hari ini banyak dibungkus dengan bingkai yang tidak banyak disadari oleh kebanyakan kaum muslimin. Maka media Islam mengambil peran penting, agar kabut kebatilan yang menutupi pandangan kaum muslimin bisa tersingkap. Umat pun akhirnya sadar dan mawas diri dari segala hal yang bisa merusak aqidah mereka.

Media menjadi Alat Perang

Perang selalunya identik dengan kontak fisik atau pun adu senjata. Tetapi saat ini adalah zaman perang generasi ke empat, perang yang tidak hanya menggunakan senjata canggih tetapi juga menggunakan media dalam perang informasi.

“Setiap hari kita berperang dalam berbagai isu, beradu opini dengan media mainstream. Hari ini misalnya soal LGBT, besok gender, lalu Syiah dan seterusnya,” ujar Dewan Syuro Jurnalis Islam Bersatu (JITU) Ustaz Toni Syarqi saat memberikan sambutan di sela-sela rapat kerja JITU di Megamendung Bogor, Jawa Barat, Selasa (23/2/2016).

Dalam hal fasilitas, saat ini media Islam masih kalah jauh dari media mainstream, meski demikian itu tidak mengecilkan semangat para jurnalisnya untuk berjuang di dunia informasi. “Kita punya Allah, kalau tidak ada Allah niscaya tidak mampu melawan kekuatan media mainstream,” ungkap Ustaz Toni.

Oleh karena itu, wartawan media Islam harus mampu menjadi organisasi resmi yang diakui oleh pemerintah dengan memiliki badan hukum. Sehingga, mampu memberikan pengaruh positif yang jauh lebih kuat bagi persatuan umat.

Demikian harapan Ketua Yayasan al-Manarah al-Islamiyah Syeikh Khalid al-Hamudi yang disampaikan dalam acara silaturahmi dan diskusi tentang Dakwah dan Media Islam bersama anggota JITU usai acara penutupan Pertemuan Ilmiah Internasional Ulama dan Dai se-Asia Tenggara Kedua, di Hotel Aston Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/07/2016) kemarin.

“Karena itu, teman-teman wartawan harus selalu melakukan komunikasi dan pertemuan-pertemuan berkelanjutan agar kemudian mampu memberikan manfaat dengan mengagendakan hal-hal yang positif untuk umat Islam,” kata Syeikh Khalid.

Tidak hanya wartawan Islam saja yang menjadi garda terdepan dalam perang informasi. Tetapi individu muslim bisa pula menjadi pejuang yang ikut andil dalam menyebarkan informasi yang benar berkenaan dengan Islam dan dunia Islam. Tiap individu muslim sudah memiliki senjata gadget yang ada dalam genggaman mereka. Bila gadget tersebut digunakan dalam andil perang informasi, semoga hal tersebut merupakan bagian daripada jihad fi sabilillah.

Media Islam, Alat Pemersatu Umat

Umat Islam hari ini dihadapkan dengan Islamphobia media. Artinya banyak media mainstream yang memberikan citra negatif terhadap Islam. Sehingga umat perlu mencari rujukan yang benar agar tidak terjebak dengan informasi yang keliru. Misalnya ciri-ciri Islam seperti jenggot, celana cingkrang, dan shalat lima waktu di masjid yang pernah diberitakan sebagai ciri-ciri teroris. Tetapi umat Islam sudah mulai cerdas, mereka tidak mudah termakan berita-berita murahan yang memojokkan Islam.

Kesadaran untuk merujuk kepada media-media Islam sudah mulai marak. Baik di media sosial, web, channel, dan sebagainya. Kepercayaan mereka pun lebih tertuju kepada media-media Islam daripada media mainstream. Oleh karena, peran media Islam untuk menjadi rujukan dan pemersatu umat amatlah diperlukan. Agar sudut pemberitaan (framing) yang sampai kepada umat adalah berita yang benar. Benar untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Fenomena tersebut bisa dilihat, bagaimana tiap individu muslim dalam akun media sosialnya seringkali mengutip informasi dari media-media Islam. Guna membantah framing media mainstream yang lebih mengarah kepada Islamphobia. Sehingga masing-masing mereka menjadi pasukan siber yang begitu ditakutkan musuh-musuh Islam. Kekuatan persatuan dalam perlawanan terhadap kebatilan inilah yang diharapkan bisa muncul dengan munculnya media Islam. Wallahu a’lam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *