Mengenal Tugas Rasulullah

Mengenal Tugas Rasulullah

Allah Ta’ala berfirman, Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Al-Ahzaab: 45-46).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di ra. berkata, “Sifat-sifat (dalam ayat) ini, yang Allah sifati dengannya Rasul-Nya Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam , inilah tujuan, inti, dan perkara yang pokok dari diutusnya beliau (menjadi seorang Rasul), yang menjadi ciri khas beliau. Dan perkara tersebut yaitu lima sifat.”

Pertama, sebagai {شَاهِدًا}, maksudnya beliau menjadi saksi atas umatnya berkenaan dengan perbuatan yang mereka lakukan, baik itu perbuatan kebaikan maupun keburukan, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,“Agar kalian (umat Islam) menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (Al-Baqarah:143)

Kedua dan ketiga, sebagai (pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan) {مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا} dan ini mengharuskan untuk disebutkan siapakah orang yang diberi kabar gembira dan peringatan, serta apakah isi kabar gembira dan peringatannya tersebut beserta amal yang menyebabkannya. Adapun orang yang diberi kabar gembira adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa yang menggabungkan antara iman, amal shalih, dan meninggalkan kemaksiatan, maka mereka berhak mendapatkan kabar gembira di kehidupan dunia, berupa semua balasan yang baik, baik balasan duniawi maupun agama, sebagai buah manis dari keimanan dan ketakwaan.

Sedangkan di akhirat berupa kenikmatan yang kekal. Adapun orang yang diberi peringatan, mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa lagi zalim, maka mereka pantas mendapatkan peringatan di dunia berupa hukuman duniawi dan agama, sebagai dampak buruk kejahilan dan kezalimannya. Dan di akhirat, pantas mendapatkan siksa pedih dan azab yang lama. Perincian hal ini ada dalam ajaran yang beliau shalallahu’alaihi wa sallam bawa, baik dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah yang mencakup hal tersebut.

Keempat, sebagai {دَاعِيًا إِلَى اللَّهِ} maksudnya (beliau sebagai da’i yang) Allah utus mengajak makhluk menuju Rabb mereka, membawa mereka untuk dimuliakan oleh-Nya dan memerintahkan mereka untuk beribadah kepada-Nya yang mereka memang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya.

Kelima, sebagai (cahaya yang menerangi) {سِرَاجًا مُنِيرًا}, ini berarti bahwa (sebelum diutusnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam ) makhluk berada dalam kegelapan yang besar, sampai diutusnya beliau. Maka jadilah beliau sosok (da’i) yang lurus, beliau telah menjelaskan jalan yang lurus kepada mereka, merekapun berjalan mengikuti sang imam ini, dan mereka mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, serta (bisa membedakan) orang yang berbahagia dengan orang yang celaka, melalui beliau.

Mereka mengambil cahaya dengan diutusnya beliau sebagai Rasul untuk mengetahui sesembahan mereka yang hak, dan mengenal-Nya melalui sifat-sifat-Nya yang terpuji, perbuatan-perbuatan-Nya yang benar dan hukum-hukum-Nya yang lurus. Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *