Mohammad Natsir

Mohammad Natsir: Dai, Birokrat, dan Politisi

Mohammad Natsir ialah seorang tokoh yang berasal dari Ranah Minang atau Minangkabau, daerah yang melahirkan tokoh-tokoh muslim ternama. Di antaranya ialah Imam Bonjol, Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Hamka, dan lain lain. Ia lahir di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat, pada hari Jumat 17 Jumadil akhir 1326 H, bertepatan dengan tanggal 17 Juli 1908. Ayahnya bernama Mohammad Idris Sutan Saripado dan ibunya bernama Khadijah.

Ia diberi gelar Datuk Sinaro Panjang, sebuah gelar pusaka adat Minangkabau yang diberikan kepada yang berhak menerimanya secara turun temurun setelah ia menikah dengan Nurhanar pada tanggal 20 Oktober 1934.

Kiprah di Dunia Pendidikan dan Politik

Dzulfikriddin dalam Mohammad Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia mengatakan bahwa Natsir telah mengkhidmatkan hidupnya dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pendidikan, hingga dia pantas disebut sebagai salah seorang tokoh pendidikan Islam.

Dia juga aktif dalam bidang politik dan memegang posisi puncak parpol dan kenegaraan sehingga Natsir pun diakui sebagai politikus dan negarawan besar. “Natsir merupakan seorang pemikir dalam politik Islam serta cendekiawan yang sangat peduli pada dakwah dan pembinaan umat. Ia merupakan pakar agama dan filsafat, sosial kemasyarakatan, pendidikan Islam, kebudayaan Islam, serta pakar dunia Islam,” ujar Dzulfikriddin.

Pemikiran Natsir dijabarkan lengkap oleh Thohir Luth dalam bukunya, M Natsir, Dakwah dan Pemikirannya. Gagasan politiknya ini telah terlihat sejak pertama kali dilontarkan Natsir muda pada awal 1930. “Tampaknya Natsir mengambil bagian dalam aktivitas politik dalam rangka membela Islam dari upaya-upaya orang yang hendak memojokkannya. Dengan gerakan politik ini, M Natsir ingin melaksanakan amar makruf nahi mungkar demi tegaknya Islam,” ujar Thohir.

Walaupun demikian, akhirnya M. Natsir mundur dari panggung politik karena mengalami kegagalan setelah Masyumi dibubarkan oleh kekuasaan Soekarno. Sebagaimana yang diketahui bahwa sebelumnya, M. Natsir sangat terobsesi untuk memperjuangkan Islam secara politis pada elite birokrat, di mana ia menargetkan untuk “mengislamkan” umat Islam di Indonesia. M. Natsir mempunyai komitmen yang kuat dalam dakwah Islam yang terlihat dalam pernyataannya, “Kalau dahulu, kita berdakwah dengan politik, tetapi sekarang, kita berpolitik melalui dakwah.”

Sang Panglima Dakwah

Konsep dakwah Natsir terlihat jelas dalam karya monumentalnya yang bertajuk, Fiqhud Dakwah. Dalam buku tersebut sarat konsepsi pandangannya tentang dakwah Islam. Natsir memaknai Islam merupakan agama dakwah. Dakwah dalam arti amar makruf nahi mungkar adalah syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat.

Menurut Thohir, Natsir mengelaborasi pengertian dakwah Islam lebih pada soal teknis penyampaian pesan dakwah Islam. Kegagalan melakukan dakwah Islam di panggung politik menjadi pengalaman dirinya untuk lebih jeli terhadap masalah teknis penyampaian dakwah Islam yang semula kurang diperhitungkan. Dia aktif dalam bidang dakwah sampai akhir hayatnya sehingga dia pun mendapat julukan sebagai panglima dakwah.

Tersimpan Manfaat Besar

Dengan pemikiran-pemikiran tersebut, Natsir memberikan manfaat bagi negara dan umat Islam. Banyak yang telah dilakukan Natsir yang telah membawa pembaruan di beberapa aspek. Namun sayangnya, sosok Natsir jarang diketahui masyarakat Indonesia. Mengingat namanya sangat minim disebut dalam pelajaran sejarah.

M Dzulfikriddin juga menyayangkan hal tersebut. Ia mengatakan, perjalanan kehidupan dan perjuangan Natsir yang penuh warna emas ternyata tak tertoreh berimbang dalam sejarah Indonesia. Namanya ditulis kecil dalam buku pelajaran sejarah, bahkan tak sedikit yang menggambarkan sosoknya dengan perspektif yang picik dan sempit. “Padahal sesungguhnya, pengaruh Natsir sangatlah besar. Walaupun dia sudah lama menghadap Sang Maha Pencipta, pengaruh Natsir bagai tak pernah mati,” ujarnya.

Memang pernah terjadi tragedi sejarah yang menyudutkan Natsir dan menghasilkan banyak pertanyaan sejarah mengenai alasan sebenarnya di balik maksud Natsir. Tragedi tersebut terjadi ketika Natsir bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dituding telah memberontak kepada Pemerintah Sukarno.

Namun, mengutip pendapat Burhan D Magenda dalam “Tiga Periode Natsir” pada buku M Natsir di Panggung Sejarah Republik”, ia menuturkan, sebenarnya dalam PRRI itu ada tuntutan otonomi daerah. Itu baru terwujud dalam era reformasi. Presiden BJ Habibie melahirkan Undang-Undang tentang Otonomi Daerah dan Perimbangan Keuangan. “Kalau undang-undang tersebut lebih dulu lahir, mungkin bisa dicegah lahirnya Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM),” katanya.

Setelah banyak kiprah yang ditorehkan Natsir, ia baru ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2008 lalu. Padahal, usulan penetapan Natsir menjadi pahlawan sudah pernah disampaikan oleh Menteri Sosial Mintardja pada awal 1970. Namun, keppres itu baru lahir bersamaan dengan peringatan 100 tahun M Natsir. Penetapan tersebut dikeluarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 41/TK/Tahun 2008.

Dikutip dari Majalah Khidmat Edisi Ke-34 Mei 2018

  1. Suwondo says:

    Semoga muncul Natsir-natsir baru yg akan membawa Indonesia yg lebih berkarakter.

  2. fuad says:

    bs menginspirasi para pejuang dakwah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *