Sedekah Karena Ingin Kaya Bolehkah

Sedekah Karena Ingin Kaya, Bolehkah?

Hidup dalam kemiskinan bukanlah pilihan bagi kebanyakan orang. Pada umumnya, manusia menginginkan kehidupan yang berkecukupan, jauh dari kekurangan, dan semua kebutuhan selalu terpenuhi. Banyak kebaikan yang dapat dilakukan dengan menggunakan harta. Saat tetangga atau teman membutuhkan uluran tangan, kita bisa membantunya tanpa bersusah payah. Saat diminta donasi pembangunan masjid, kita tinggal transfer melalui gadget kita. Dengan harta, kita bisa berangkat berhaji, infaq fii sabilillah, dan amalan-amalan lain yang mensyaratkan harta yang cukup. Demikian sisi positifnya. Banyak lini kebaikan yang tidak dapat dikerjakan kecuali dengan adanya harta.

Namun, bagimana jika kita tidak mempunyai harta? Mahfuzhat (Pepatah) Arab mengatakan, “Faaqidusy syai’ laa yu’tih,” artinya: orang yang tidak punya tentu tidak bisa memberi. Jika kita tidak punya harta, maka kita tidak bisa berbuat banyak jika terkait amalan-amalan yang membutuhkan harta. Oleh karenanya, Aa’ Gym sempat menuturkan, “Aku tidak ingin kaya, tetapi aku harus kaya.” Karena perjuangan dan dakwah Islam membutuhkan harta yang banyak. Demikian pula dengan kekasih kita, baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berapa banyak harta yang telah beliau keluarkan untuk perjuangan Islam. Oleh karenanya, harta menjadi sarana yang mesti kita upayakan. Allah pun menegaskan dalam ayat-Nya yang mulia,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat [49]: 15).

Jadi, berjihad di jalan Allah dengan menggunakan harta adalah perintah Allah, Rabb semesta alam.

Hal lain, kemiskinan pula yang terkadang menjadikan seseorang menjadi kufur. Walaupun status hadits, “Hampir-hampir kefakiran menjadikan seseorang menjadi kufur,” ini dhaif namun pada kenyataannya, kemiskinan adalah hal yang dilirik oleh para misionaris untuk memurtadkan orang muslim. Pendekatan ekonomi, dengan memberi pekerjaan, biaya sekolah, dan bahkan sekadar mie instan terkadang bisa menjadikan murtad bagi orang yang lemah imannya. Ini sebuah kenyataan.

Bolehkah Kita Sedekah dengan Niat Agar Kaya?

Bagaimana jika kita niat sedekah agar kaya? Boleh atau tidak? Dalam hal ini tidak mengapa menggabungkan banyak niat yang baik saat bersedekah. Keutamaan Allah itu luas. Allah menganjurkan kepada hamba-Nya untuk mendapatkan keutamaan-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman terkait dengan Nabi Nuh ‘alaihissalam, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirim hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

Ibnu Katsir rahimahullah berkomentar, “Yakni kalau Anda semua bertaubat kepada Allah, beristighfar dan menaati-Nya, maka Anda akan mendapatkan rezeki yang banyak, diturunkan berkah hujan dari langit, ditumbuhkan berkah di bumi, ditumbuhkan bagi kamu tumbuh-tumbuhan, dikeluarkan (susu) untuk kamu serta ditambahi harta dan keturunan. Yakni (Allah) berikan kepada Anda harta dan anak-anak. Menjadikan kebun-kebun Anda dengan berbagai macam buah-buahan dan dialiri disela-selanya sungai yang mengalir airnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/233).

Seorang hamba yang beristighfar, bertaubat kepada-Nya dan mengharap hal itu semua, maka hal itu tidak mengapa. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Jika seseorang beramal untuk mendapatkan dua kebaikan; kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Maka hal itu tidak mengapa, karena Allah berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq: 2-3). Ini adalah anjuran bertakwa untuk urusan dunia.” (Majmu Fatawa Wa Rasail Ibnu Utsaimin, 2/209).

Keinginan seorang hamba dengan amalannnya untuk mendapatkan keluasan rahmat dari Rabbnya di dunia dan akhirat, termasuk berbaik sangka kepada Allah. Akan tetapi, jangan sampai maksud kita hanya urusan dunia saja, sementara kita berpaling dari tujuan akhirat. Allah Azza Wajalla berfirman, “Maka di antara manusia ada orang yang bendoa, ‘Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 200-202).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kebaikan yang diharapkan di dunia adalah termasuk semua kebaikan yang ada pada seorang hamba, baik dari rezeki enak luas dan halal, isteri shalihah, anak penyejuk mata, kenyamanan, ilmu bermanfaat, amalan shalih dan selain itu yang diinginkan dan disenangi serta yang mubah. Sementara kebaikan akhirat adalah selamat dari siksa kubur, di Padang Mahsyar, api neraka, mendapatkan keridhaan Allah, mendapatkan kemenangan dengan kenikmatan yang langgeng, dekat dengan Rabb yang Mahakasih. Sehingga doa ini termasuk paling lengkap dan paling sempurna dan mengedepan mendahulukan kepentingan orang lain.” (Tafsir As-Sa’dy, hal. 92).

Dengan demikian, sebetulnya tidak mengapa jika kita bersedekah dengan niat agar dibukakan fadhilah keutamaan dari Allah berupa kekayaan, tanpa meninggalkan niat untuk kebaikan di akhirat.

Dikutip dari Majalah Khidmat Edisi Ke-30 Bulan Januari Tahun 2018 dengan judul asli “Jangan Beredekah Jika Tidak Ingin Kaya.”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *