Yayasan Al-Huda Surakarta Salurkan Bantuan Kemanusiaan Untuk Rohingya

Yayasan Al-Huda Salurkan Bantuan Kemanusiaan Untuk Rohingya

Yayasan Al-Huda Surakarta melalui lembaga amil zakatnya, Griya Sedekah Al-Huda telah menyalurkan Bantuan Kemanusiaan untuk pengungsi Rohingya di Sittwe, Myanmar. Bantuan ini disalurkan melalui lembaga kemanusiaan ONECARE. Hari Jum’at, 9 Februari 2018 Tim Misi Kemanusiaan dari Indonesia ini telah menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk muslim Rohingya di Sittwe, Myanmar tepatnya  di camp pengungsian desa Ooh Dow Gyi.

Singgah di Yangon, Menuju Sittwe

Bantuan logistik untuk pengungsi Rohingya, terutama di Sittwe, Myanmar, masih sangat dibutuhkan secara berkelanjutan. Untuk misi kali ini, sengaja dipilih lokasi pengungsian di Sittwe. Sebab, kami mendapat informasi dari relawan lokal yang tinggal di Sittwe, ada sebuah kemp yang sudah satu tahun terakhir tidak mendapatkan bantuan. Maklum, keadaan mereka sangat terisolir di dalam kemp, di Kota Sittwe, dengan penjagaan yang sangat ketat.

Relawan tiba di Ibukota Myanmar, Yangon, pada hari Kamis, 8 Februari 2018. Tepat jam 21.30 waktu setempat, pesawat yang membawa relawan mendarat di Bandara Internasional Yangon. Setelah melalui proses pemeriksaan imigrasi, relawan bertemu dengan relawan lokal, yang akan menjadi pemandu.

Sesaat kemudian, rombongan relawan bergerak menuju penginapan yang berjarak kurang lebih 20 km. Dalam perjalanan, terselip obrolan yang membahas tentang perkembangan persiapan logistik bantuan yang akan disalurkan.

Kemp pengungsian di desa Ooh Dow Gyi dan  Bo Du Par 2 menjadi prioritas lokasi yang akan memperoleh alokasi bantuan. Namun, ada satu tantangan yang akan dihadapi, yaitu akses keluar-masuk daerah tersebut masih sangat terbatas, dengan penjagaan ketat dari aparat keamanan.

Dengan doa penuh harap, keesokan harinya relawan bersiap menuju ke Sittwe. Tiket dari Yangon ke Sittwe terjadwal jam 16.30 waktu Yangon. Sebelum terbang, relawan menyempatkan diri untuk sholat jum’at di masjid kecil, di tepian kota Yangon, yang dikelilingi oleh ratusan pagoda yang bertebaran di penjuru kota.

Saat melihat rumah makan yang berlabel halal, relawan lokal mengajak tim relawan Indonesia untuk singgah dan mencicipi makanan halal di dekat masjid. Makanan halal adalah barang yang sulit diperoleh. Selesai menyantap hidangan, rombongan bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Sittwe dan Masjid India yang Tak Terurus

Tepat jam 18.00 waktu setempat, pesawat yang membawa rombongan tim relawan mendarat di Sittwe. Terlihat sekumpulan tentara dan polisi berderet dan berjaga di landasan pesawat. Tak berselang lama, terlihat dua helikopter militer mendarat. Sayangnya, polisi dan tentara menghalangi orang-orang yang hendak mengabadikan momen tersebut menggunakan HP atau kamera.

Tim relawan kemudian menuju penginapan di kota yang terlihat seperti kota tua ini. Memperoleh makanan halal kembali menjadi tantangan tersendiri untuk para relawan. Alternatif makanan yang mudah dikonsumsi adalah mie instan, atau biskuit yang diseduh dengan sedikit susu kemasan dari Thailand, tentunya dengan label halal yang tersemat di kemasannya. Malam dihabiskan relawan untuk berkomunikasi dengan relawan tempatan yang akan membantu proses distribusi bantuan.

Keesokan harinya, setelah menunaikan sholat subuh, tim relawan keluar dari penginapan dan menyusuri jalanan di kota Sittwe. Suhu di kota Sittwe cenderung dingin menusuk di pagi hari, dan terik menyengat di siang hari.

Setapak demi setapak langkah yang dilalui, memberikan pemandangan bekas-bekas peradaban Islam sebelum eskalasi konflik memaksa penduduk kota ini mengungsi. Terlihat masjid yang masih kokoh dengan arsitektur khas India, tetapi kusam dan tidak terurus.

Masjid tersebut terhalangi oleh tembok yang mengelilinginya dan rerimbunan tanaman di sekitarnya. Ditambah para pedagang kaki lima yang menempati sisi dinding dari gerbang dan pagar masjid. Dalam hati, tim relawan berharap semoga peradaban Islam di kota ini bisa kembali tegak suatu hari.

Meski belum puas berjalan kaki menikmati pemandangan di sekitar penginapan, tim relawan akhirnya kembali ke kamar dan bersiap melakukan distribusi bantuan untuk pengungsi. Distribusi bantuan ini dibantu oleh relawan lokal Sittwe.

Distribusi Bantuan ke Kemp Pengungsian

Jam menunjukan pukul 07.30, relawan telah siap untuk melakukan perjalanan menuju kemp pengungsian. Tepat jam 08.00, telepon berdering. Seorang relawan lokal mengabari bahwa ia sudah berada di depan penginapan untuk menjemput tim relawan dari Indonesia.

Setelah menempuh perjalanan berkisar 10 km, rombongan relawan melewati komplek militer yang begitu panjang. Mobil berjalan berbelok-belok, melewati pagar berduri dengan jalanan yang bergelombang menuju desa Hla Ma Chey (baca: Lamase).

Terlihat pos-pos militer berjarak kurang dari 1 km. Terdapat tentara dan polisi yang siaga penuh, dengan senjata lengkap di pos-pos tersebut. Kondisi jalan tampak tidak terawat, penuh lubang.

Tim relawan tidak langsung menuju ke tempat pembagian bantuan, tetapi terlebih dahulu singgah di rumah kakak ipar dari sang supir untuk beristirahat sebentar. Rumah ini berada di tengah-tengah antara dua kemp, Kemp Ooh Dow Gyi dan Bo Du Par 2. Pagar kokoh terlihat mengelilingi rumah tersebut. Peternakan yang ada di dalam kebun di rumah tersebut menandakan bahwa keluarga ini termasuk keluarga berada dan cukup terpandang.

Setelah beberapa saat, tim relawan menuju lokasi tempat pembagian bantuan untuk kemp Ooh Dow Gyi dan Bo Du Par 2. Ketika datang ke lokasi, terlihat aktivitas bongkar muatan dari truk pengangkut logistik. Tim relawan turut membantu menurunkan dan menata paket bahan makanan yang akan dibagikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *